Krisis Amerika di Rumah Tangga?

Posted: November 29, 2008 in opini
Tag:, , , ,

Biarlah krisis ekonomi dan kredit macet hanya menimpa Amerika. Jangan sampai krisis keuangan ikut berimbas pada rumah tangga (RT). Bahaya!Sekarang ini krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) menyedot perhatian banyak orang. Ada yang khawatir, ada yang mensyukuri, ada yang no comment – entah karena tidak paham atau memang tidak begitu peduli.

Dari apa yang terjadi di AS, sebenarnya bisa kita ambil satu pelajaran penting. Yaitu tentang hutang. Ya, kita semua rakyat Indonesia sangat akrab dengan kata yang satu ini. Yang saya maksudkan bukan hutang negara, pemerintah pusat / daerah atau perusahaan, melainkan hutang kita sendiri, hutang di lingkup rumah tangga.

Jaman dulu, hanya orang yang punya jaminan rumah atau tanah yang bisa mengajukan kredit. Mereka orang-orang kelompok prime, yaitu yang dianggap memenuhi syarat dan sanggup mengembalikan pinjaman. Dahulu kredit sebatas uang tunai atau kredit rumah. Jaman sekarang, orang-orang kelompok subprime – hanya berbekal fotokopi KTP saja juga bisa mendapatkan kredit tanpa jaminan. Barang yang dikredit juga beragam, mulai dari uang tunai, rumah, kendaraan hingga barang elektronika dan perlengkapan rumah tangga.

Masalahnya sekarang, apakah kita pihak yang menjadi sasaran kredit (debitur) termasuk dalam kelompok prime atau subprime? Mereka para kreditur mungkin tidak terlalu peduli. Apa buktinya? Sedikit contoh dari sekian banyak realita di lapangan. Rumah kerabat saya pernah menjadi alamat rujukan kredit sepeda motor sebanyak 5 buah dalam kurun waktu kurang dari 5 bulan. 3 diantaranya dikredit masing-masing oleh mereka yang tidak punya pekerjaan tetap, dengan pendapatan di bawah rata-rata. Saya sendiri beberapa kali dirayu untuk aplikasi berbagai macam kartu kredit. Kalau pun saya tidak tertarik, maka mereka para agen meminta saya untuk merekomendasikan orang lain dengan berbagai macam syarat yang dipermudah plus informasi tips dan trik agar aplikasi bisa disetujui.

Apakah para kreditur dalam contoh di atas tidak tahu keadaan debitur sama sekali? Saya sangat meragukan ketidaktahuan mereka. Mereka punya kepentingan bisnis, dituntut memperluas pasar, salah satu caranya yaitu dengan memberikan berbagai macam kelonggaran.

Saya tidak peduli dengan kesulitan para kreditur yang menagih piutang mereka di kemudian hari. Namun, saya ingin mengingatkan diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar saya agar tidak terjebak pada situasi krisis yang sama seperti di AS, meskipun dalam skala rumah tangga.

Mari kita lihat keadaan keuangan kita di masa sekarang ini. Berapa jumlah total hutang kita? Berapa kreditur yang tagihannya selalu menyapa kita setiap bulannya? Sudahkah kita membayar cicilan rumah, kendaraan, kartu kredit, barang elektronika dan perlengkapan rumah tangga lainnya? Berapa dana yang harus kita siapkan untuk membayar cicilan hutang setiap bulannya? Dengan cara apa kita membayarnya? Dengan kredit lunak dari kantor, koperasi, menggesek kartu kredit, atau dana P2KP dari Ibu RT/RW?

Sejujurnya benar-benar mampukah kita untuk membayar semua hutang itu? Jangan sampai kita asyik mengikuti berita krisis di AS dan bergembira atasnya, pada saat yang sama rumah tangga mengahadapi situasi tidak berbeda, harus gali lobang tutup lobang karena kecerobohan kita dalam mengelola keuangan.

wassalam,

sumber :www.hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s