(mozaik 1) Mimpi Itu


Malam begitu sunyi menurut Peter. Jalanan tampak sepi mencekam. Lalu lalang manusia pun tidak terlihat lagi. Sayup sayup suara angin mengikuti langkahnya. Bigung dan terasa aneh oleh dirinya. Sedang dimanakah dia? Entahlah dia tak tahu menahu. Malam pun semakin larut. Tetapi rembulan tak henti padamkan sinarnya. Masih begitu gelap, Cahaya sang rembulan hamper tak cukup lagi menerangi jalan setapak di depannya. Badannya telah lelah, dia tak sanggup lagi bila harus berjalan. Sementara ia tak tahu dimana ia berada sekarang. Hanya tampak pohon pohon yang menjulang tinggi dan semak semak belukar yang tumuh lebat di sekitarnya.

Meski lelah, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan. Menerobos semak-semak dan melawan dinginnya malam. Tidak lama kemudian setelah berjalan beberapa langkah, dilihatnya dari kejauhan sebuah rumah kecil. Rumah tua yang diterangi sebuah perapian kecil semacam obor, agaknya memang sengaja digantungkan oleh pemiliknya pada dinding rumah itu. Tampa berpikir panjang mulailah ia mendekat ke rumah tua itu. Sungguh rumah tua yang menyeramkan. Dindingnya telah rapuh termakan usia. Atapnya pun telah dipenuhi oleh sarang laba-laba. Suara ringkikan keledai semakin mendirikan bulu kuduk Peter. Tetapi itu semua tidaklah bisa menghilangkan rasa lelah yang telah menguasainya lebih dulu.

Dia berniat untuk mengetuk pintu rumah itu. Tetapi pintu itu malah terbuka dengan sendirinya kemudian terdengar suara dari dalam rumah memanggil namanya “Masuklah Peter telah lama aku menunggu kedatanganmu disini.” Awalnya Peter tampak terkejut dan takut. Begitu aneh rasanya pintu yang akan dia ketuk bisa terbuka sendiri. Tapi dia akhirnya memutuskan untuk masuk dan menemui orang yang memanggilnya tadi. Jarak beberapa langkah dari pintu dilihatnya banyak kertas kertas dan buku buku berserakan dilantai, seram dan mengaerikan. Ia lalu masuk lebih dalam. Lalu ia melihat seorang kakek tua. Ia duduk di kuri goyang dengan sebuah buku berwarna merah di tangan kanannya serta tongkat di tangann kirinya.

“Siapa kau kenapa kau tau akan kedatanganku?”, tanya Peter dengan muka penuh penasaran. “Kau tak perlu tau siapa aku, dan kau akan tahu pada saat waktunya tiba kelak dan engkaulah orang yang terpilih Peter. Ini adalah milikmu, Ambilah! Karena kaulah yang akan menyelamatkan kami kelak.” Jawabnya singkat

“Buku apa ini? Apa maksudnya? aku adalah orang yang terpilih? dan kenapa engkau berkata akulah yang akan menyelamtkan kalian kelak? Kalian siapa ? beri aku penjelasanmu pak tua. Kenapa kau mengatakan itu semua.”

“Kau akan tahu semuanya nanti setelah waktunya tiba, berhati-hatilah dengan ucapanmu dan pikiranmu karena itu adalah senjata dirimu. Kau juga akan bertemu dengan dua temanmu lagi dan mulailah menjalin persahabatan dengan mereka karena mereka sama sepertimu, yaitu orang orang yang terpilih, Kau tak perlu mencari mereka karena mereka akan datang dengan sendirinya. Sekarang masuklah ke kamarmu. Kamarmu di samping ruang itu. Tidurlah! Kau pasti lelah karena telah berjalan seharian.”, perintah pak tua itu. Karena memang lelah Peter pun menuruti saja kemauannya. Dia segera pergi ke ruangan yang ditunjuk oleh pak tua tersebut. Dan mulai membaringkan badan. Kemudian tertidur.

Sejurus kemudian seseorang menepuk punggung peter” Sayang, bangunlah Kamu bicara dengan siapa ? Apakah kamu sedang bermimpi buruk?”, Tanya sang mama kepada peter yang masih mengantuk tak percaya kalau dia sedang bermimpi. “ Mama! Kenapa mama ada di sini? Dimana pak tua itu ?”, tanya peter keheranan bukankah dia sedang di rumah tua milik kakek yang ditemuianya tadi malam.

“Pak tua, siapa sayang? Kamu pasti rmimpi buruk. Sekarang tenangkan pikiranmu dan mulailah sadar, kamu sekarang ada di rumah. Mama datang ke mari karena mama mendengar kamu berbicara sendiri dalam tidurmu. Lalu, mama khawatir karena tak ada orang lain yang tinggal di rumah ini selain kita berdua. Kemudian mama membangunkanmu. Mama takut terjadi apa-apa padamu sayang.” Terang sang mama pada Peter yang masih tidak percaya bahwa ia sedang berada di rumah.

“Mungkin mama benar aku telah bermimpi buruk, sekarang mama kembali saja ke kamar. Ini masih larut malam. Mama pasti juga lelah kan ? setelah bekerja seharian. Peter tidak apa apa kok, hanya mimpi buruk saja.”

“Iya mama juga ngantuk sekali. Tapi kamu ga apa apa kan? Nanti kalau terjadi apa-apa, kamu panggil mama aja yah! Mama mau balik dulu.” Setelah mencium peter dan mengucapkan selamt malam, mama pun kembali ke kamarnya.

Di malam itu, setelah terbangun dari tidurnya peter tidak sanggup tidur kembali. Ia semakin penasaran dengan mimpinya itu dan juga tentang perkataan pak tua akan dirinya dan ia teringat pada buku yang di berikan kepadanya. Tetapi ia juga sadar bahwa itu hanyalah mimpi dan kemudian ia pun tertidur kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s