(Mozaik 2) Pagi yang Aneh


Keesokan harinya, peter terbangun oleh suara mama yang memanggilnya dari dapur. Cahaya mentari  yang menerobos masuk ke dalam  kamarnya membuat matanya silau. Betapa kagetnya ia setelah melihat jam di samping tempat tidurnya. Jam setengah tujuh pagi.  Dengan lekas ia pun mandi dan mengganti baju. Setelah siap dan akan turun ke bawah ia tampak terkejut ketika melihat terdapat buku merah tua di samping tempat tidurnya itu. Ia ambil buku itu. Ia terdiam sejenak “Bukankah ini buku yang aku terima dari pak tua itu. apakah kejadian itu benar benar terjadi terhadapku?” pikirnya dalam hati. “Peter! Sarapannya sudah siap!” teriak sang mama. Tanpa berpikir panjang ia masukan bukunya ke dalam tasnya dan mulai beranjak dari kamar.  Ia tidak sarapan pagi tapi hanya minum segelas susu.

“Apakah kamu tidak  sarapan dulu?”, tanya sang mama. “ga ma! Peter sudah terlambat nih, ga biasanya peter bangun kesiangan kayak gini. Sudah ma! Peter berangkat dulu.” Setelah mencium mamanya peter pun pergi ke sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Ia hanya berjalan kaki. Ia tampak panik karena ia tahu apa resikonya jika ia terlambat ke sekolah, ia akan berhadapan dengan kepala sekolah yang galak dan menyebalkan, Ibu Susan. Ia tak segan segan akan menghukum muridnya berdiri di lapangan selama dua jam atau bahkan menyuruh mereka berlari keliling lapangan lima puluh kali ketika ia melihat muridnya ada yang tidak disiplin di sekolah. Sesekali kali sambil beralri ia melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya.       Sungguh malang nasibnya kali ini, pintu gerbang sekolah telah tertutup menandakan bel sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu. “Sial!” katanya dalam hati. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah cara bagaimana ia bisa meloloskan diri dari kepala sekoah yang galak itu. Tetapi ada yang salah kali ini pada dirinya kenapa semenjak bangun tidur tadi kata hatinya terus mengatakan kalau ini akan baik baik saja padahal Dia tahu persis kalau nanti nasibnya tidak baik. Peter tidak tau sebenarnya siapa itu ? sepertinya ada peter yang satu lagi dalam tubuhnya. Tetapi dia tidak menghiraukannya karena ia telah pasrah dengan apa yang akan terjadi dengannya nanti entah keliling lapangan entah berdiri selama dua jam.

Dari kejauhan tampak seorang wanita tua dengan rambut pirang membawa sebuah buku tebal berwarna hitam, Black List  pikirnya dalam hati. Itu adalah buku yang mana berisikan daftar murid murid bandel dan tidak disiplin dalam sekolah. Selama ini peter tidak pernah melanggar peraturan sekolah dan dikenal baik oleh gurunya. Disamping itu  tak jauh di depannya ia melihat Mindo, ia adalah anak paling bandel di sekolahan ini. Ia memiliki sebuah geng yang bernama TD ( The Destroyer). Hampir semua murid di  sekolahannya takut dan tunduk kepadanya tidak terkecuali dia.

Mindo menghadap bu Susan lebih dulu sedangkan peter berada di belakangnya. Peter terlihat sangat gemetar tetapi ketika dia melihat mindo, begitu tenang sepertinya ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Sejurus kemudian Ibu Susan menuliskan sesuatu di buku hitam itu dan mindo pun berlari lapangan setelah di perintah oleh Ibu Susan. Kini Ibu Susan meliaht ke arahku. Tatapan matanya begitu tajam seperti elang yang ingin menangkap seeokr tikus. Tangannya menggenggam kuat seakan akan telah gatal untuk menghukumnya. “Peter!” sapa Ibu Susan marah kepadanya sambil menuliskan sesuatu pada buku hitam.

“ Selamat Pagi! Maaf, saya terlambat. Saya bangun kesiangan karena saya tidak bisa tidur tadi malam.”  Pernyataan yang tidak logis menurutnya. Ia telah pasrah kepada nasibnya. Sesekali ia melihat ke lapangan, ia melihat Mindo begitu kelelahan  karena telah berlari sekuat tenaga. “Apakah nasibnya akan seperti dia ?” pikirnya dalam hati. Tidak sengaja tatapan ke dua murid yang berlainan ideologi itu pun bertemu hanya sejenak tetapi membuat jantung peter berdetak tak karuan, ia telah melihat senyum itu. Senyuman maut, begitulah dia dan teman temannya menjuluki senyuman itu. senyum yang tampak begitu merendahkan seseorang, bisa dibilang senyuman yang menghina. Konon kata teman temannya siapa yang telah melihat senyum itu nyawanya akan terncam.

Anehnya  setelah mendengar penjelasan tadi tiba tiba wajah Ibu Susan yang  sebelumnya terlihat sangat marah kepadanya menghilang begitu saja entah kenapa, bahkan Ibu Susan tersenyum lembut kepada peter. “how come?” pikirnya dalam hati. “ it’s alright, sekarang bergegaslah masuk ke kelasmu. Temanmu telah menunggu.”, perintah Ibu susan.

Tanpa berpikir sedikipun karena saking senangnya ia langsung saja berlari meninggalkan Ibu Susan setelah mengucapkan ucapan terima kasih dan beranjak menuju kelas. “ Kenapa ibu Susan melepaskanku begitu saja tanpa hukuman. Padahal mindo? Apakah itu karena aku anak yang baik? Tapi tidak mungkin karena setahuku bu Susan itu orangnya ga pandang bulu. Bahkan ia sempat memberiakan senyumnya itu. Senyum yang berbeda sama sekali dengan yang ku lihat ketika bertemu dengan Mindo tadi. Senyum yang mungkin aku saja dari ribuan murid di sini yang pernah melihat senyum itu. Tetapi kenapa? Ah… yang penting aku lolos”, gumamnya dalam hati. Ia terus berlari menuju kelasnya yang terletak jauh dari gerbang utama. kelasnya terletak di bagian pojok bangunan sekolah. Kelas yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil dengan dua papantulis putih di depan dan dua puluh anak di dalamnya. Dan kini di depannya telah terpampang kelasnya itu, Kelas X.

Dari luar ia dapat mendengar suara teman temannya yang sedang belajar kemudian ia mulai membuka pintu itu dan menyapa mereka. “Good morning Mr. Bob! Sorry I’m late. Can I get the seat please?.

“Morning peter! why you’re lete?”, tanya Mr. Bob. “ I couldn’t sleep yesterday. I got a nightmare”.

“It’s okey . yes, you can.

Anak anak tak menyangka hal ini telah dilakukan oleh Mr.Bob. Sesuatu yang tidak biasa ia lakukannya ketika melihat siswa yang tidak disiplin. Peterpun keheranan mengapa Ibu Susan dan Mr.Bob tidak menghukum dirinya. Dan dia pun duduk di bagian paling belakang dari kelasnya karena ia terlambat masuk kelas padahal semenjak ia pertama kali masuk ke sekolah ini ia tidak pernah sama sekali duduk di bangku belakang. Selama pelajaran perasaanya aneh, ia terlihat begitu gelisah tapi sungguh ia tidak tahu perasaan apa itu sebenarnya ? Bel istirahat berbunyi menandakan bahwa jam belajar telah usai untuk beberapa waktu ke depan. Anak anak mulai berhamburan keluar kelas ketika Mr. Bob menutup pelajaran dan mengijinkan mereka keluar.

“Hai Peter! what the hell. Bagaimana bisa seekor anjing galak itu tunduk kepadamu hanya dengan mengucap kata maaf dan berbincang sedikit tentang mimpi burukmu itu. Tidakkah kau sadar kau telah mengelabuhi seekor anjing yang tak pernah henti untuk menggigit.”, kata john sambil tertawa kecil

“Entahlah, John. Aku juga bingung kenapa hal itu bisa terjadi padahal sebelumnya aku yakin dan telah mempersiapkan diri untuk dihukum. Tetapi malah sebaliknya beliau menjawab sapaku dengan dingin dan kemudian menyuruhku duduk. Anehnya hal ini tidak hanya terjadi pada Mr. Bob tetapi juga pada Ibu Susan, kepala sekolah kita. Dia membirakanku masuk ke dalam sekolah begitu saja tanpa harus melewati hukuman sedikitpun padahal Mindo mendapatkannya.”, terangnya’

“What? Kau juga telah mengelabuhi macan betina itu. How come? What’s the formula. Seekor macan tunduk kepada seekor tikus. Bagaimana itu bisa terjadi? Mimpi apa aku semalam?” , tutur charlie tidak percaya.

“ Entahlah, aku tak tahu apa arti dari semua ini? Semenjak aku mengalami mimpi itu hal hal aneh mulai terjadi dalam diriku. Mimpi itu sungguh aneh, jika kau mendengarnya mungkin kau tak akan mempercayai itu.”

“ Tell me peter! I wanna hear it.”, pinta john. Peter pun menceritakan semuanya mulai dari ia bertemu dengan Pak tua itu hingga akhirnya ia menemukan buku itu di dalam kamarnya padahal mamanya mengatakan itu semuanya hanyalah mimpi belaka. Ia juga mengatakan kalau ia merasa bahwa ia memiliki sosok dirinya lagi yang bersemayan di dalam tubuhnya.

Setelah bercerita ia terdiam sebentar ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya,john dan charlie. Entah itu apa, tetapi yang jelas seeorang akan menghajar mereka bertiga. Lalu peterpun mengatakan hal ini pada teman temannya. Tetapi hal ini malah di tertawakan oleh mereka.

“Stupid boy!. Apakah kau sedang gila. Kamu ini ada ada aja, kalau ngomong itu yang benar donk!” bantah john yang kemudian diikuti oleh charlie” sekarang di mana buku itu aku mau lihat sebentar”.

Tanpa basa basi lagi peterpun menggeledah tasnya. Beberapa menit kemudian ia mengeluarkan sebuah buku tua berwarna merah dan memberikannya kepada john. “ Ini bukunya, buku yang terlihat sangat tua dan mengerikan.”. Tetapi belum sempat john menyentuhnya Mindo dengan kawan kawannya  telah berada dibelakangnya dan ia pun merebutnya dari tangan peter. john pun terkejut dan berdiri meghadap ke arah mindo. Ia berusaha mengambil kembali buku peter itu.

“Mindo, kembalikan buku itu. itu bukan milikmu. cepat!”, pinta john kasar. Tetapi apa yang dia dapat tidaklah sesuai dengan yang ia minta, ia malah mendapat pukulan mentah mentah dari tangan Mindo. “ The power of magic words”, kata mindo.

“ Mindo kembalikan bukuku. Jangan kau sakiti teman temanku. Sekarang pergilah. Jangan kau ganggu kami.” Kata Peter ke arah Mindo. Kata kata itu terdengar begitu lembut di telinga mungkin siapapun yang mendengarnya akan tertawa.

“ Kau itu sedang membentak atau merayu Mindo. Andai kalian tahu. Kita tidak akan mempan dengan rayuaanmu itu. Kerana kita adalah The Destroyer. Geng yang menguasai sekolahan ini. Kami akan melakukan apapun itu demi mendapatkan kesenangan walau kami tahu hukuman di depan mata. Hahhahha……”, kata Rio salah satu dari anggota geng tersebut.

Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya pun terjadi. Mindo mulai gemetar sendiri dan entah kenapa sejurus kemudian ia berjalan menuju john dan memberdirikannya. Lalu ia memberikan buku itu kepada peter tanpa kata kata sedikitpun. Kawan mindo hanya geleng geleng kepala melihat tindakan mindo yang begitu konyol menurut mareka karena tidak menyangka hal ini akan terjadi.  Seekor harimau putih tunduk dengan kata kata tikus yang bisanya hanya mengumpat.

Teman teman Peter pun tak menyangka hal ini akan terjadi bagaimana sebelumnya Peter tahu akan ada seseorang yang akan menghajar dia dan temannya. Sejurus kemudian Mindo dan kawan kawannya pergi dari kelas. Sedangkan Peter masih terdiam seribu kata ia begitu bingung melihat tingkah Mindo itu, kekuatan apa itu, apa karena…..

“ Teman, aku lihat sendirikan bagaimana hal itu terjadi. Itu terjadi dengan sendirinya mereka semua takluk akan kata kataku. Aku tak tahu, aku bingung sebenarnya pa yang sedang terjadi dengan diriku. Apa benar yang dikatakan pak tua itu tentangku?”, terang peter dengan nada gelisah.

“ Perkataan Pak Tua katamu, perkataan mana yang aku maksudkan ? kenapa kau begitu yakin kalau itu adalah sebuah kekuatan yang ada pada dirimu. Mungkin saja hari ini  adalah hari mujurmu? ”, tanya charlie

“Entahlah, charlie. Hati ini terus saja tersiksa oleh perasaan itu selalu aja ada yang mendesakku untuk  menyelamatkannya. Mungkin kau benar hari ini adalah hari mujurku jika perkataanmu itu benar mungkin kita bisa melihat keesokan harinya. Tapi aku masih yakin sekali dengan apa yang dikatakan Pak Tua itu dia mengatakan aku adalah orang yang terpilih. Aku tak tahu terpilih dalam hal apa ? dia juga mengatakan kalau kata kata dan pikiranku adalah senjataku. Dan aku akan menemui dua anak lagi yang akan menjadi sahabatku kelak. Aku begitu bingung! Sungguh aku tidak tahu apapun tentang arti semua ini.” Terang Peter kepada John dan Charlie.

“Hey John, Kenapa setelah aku mendengar ceritanya aku juga merasa bingung. Tell me what’s going on?”,tanya charlie

“Mungkin yang di ceritakan oleh Pak tua itu benar suatu saat nanti kau akan menemui dua orang sahabatmu itu yang mungkin juga memiliki kekuatan sama sepertimu. Sekarang bagaimana kau akan bertemu dengan sahabatmu itu?”

“Pak tua itu mengatakan kalau aku tak perlu mencarinya karena mereka akan datang sendiri ke hadapanku.”

Tidak terasa perbicangan itu terasa begitu cepat setelah mereka mendengar suara bel sekolah berbunyi untuk kedua kalinya, menandakan bahwa jam untuk istirahat telah usai. Semua murid bergegas menuju ke kelas masing masing menyiapkan diri untuk menempuh pelajaran selanjutnya.

Waktu terus berputar menggilas apa pun itu di depannya tak kenal lelah dan istirahat, terus berjalan dalam lintasan dunia menuntut manusia untuk memeras otaknya. Cuaca yang cerah memberikan harapan bagi Peter untuk belajar dalam suasana yang tenang. Ia merupakan salah satu anak yang di kagumi oleh teman temannya karena kepandainnya tidak jarang temannya belejar bersama di rumahnya. Ia juga termasuk pemuda yang tampan tetapi ia bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta. John dan Charlie adalah sahabat terdekatnya. Mereka selalu kompak dalam melakukan sesuatu dan mereka benci sekali dengan TD yang di pimpin oleh Mindo.

Jam dinding telah menunjukan pukul empat sore. Bel sekolah berbunyi untuk tiga kali, menandakan murid murid diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing masing. Di kelas X peter sendirian, teman temannya telah pulang duluan sedangkan ia masih asyik dengan buku bukunya. Ia sedang mengemasi buku bukunya. Tak sengaja ia teringat dengan buku merah misterius miliknya, dimana ia meletakanya?. Ia bingung mencarinya di dalam tasnya pun tidak ada juga. Seluruh kelas telah ia telusuri tapi tidak  ketemu. “ Mungkinkah ada yang mencurinya? Siapa?” gumamnya dalam hati.  Ia pun duduk kembali di tempat duduknya dengan raut muka menyesal, ia tak tahu lagi harus kemana lagi ia mencarinya. Setelah sekitar tiga puluh menitan ia mencari tetapi tidak ketemu juga, Akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanannya ia tampak begitu gelisah  entah mengapa? Tampaknya ia begitu gusar karena telah menghilangkan buku itu padahal buku itumenurutnya bukanlah buku yang berharga, buku yang ga jelas juga tetapi kenapa dari tadi ia merasa ada seseorang yang selalu membisikan kepadanya kalau ia harus mencarinya. Entah ia tak tahu siapa itu.

Cuaca yang cerah dan panas itu membakar tubuh peter. Di kamarnya ia baringkan tubuhnya diatas kasur dan mulai merenung “ hari yang melelahkan dan aneh” pikirnya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apakah aku telah gila ? siapa dia? Kenapa dia selalu muncul ketika kau sendiri ? seputar pertanyaan pertanyaan yang da si kepala Peter. Sunggu Ia ingin sekali lepas dari itu semuanya tapi ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia bingung sendiri. Bau keringat yang menyengat juga mengganggunya dan ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk melepas semua kegelisahan yang ada dalam pikirannya dan juga rasa lelah yang mengikatnya.

Beberapa menit kemudian Peter keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak lebih berbinar dari sebelumnya sepertinya ia dapat menghilangkan rasa lelah yang ada. Tatapan matanya lebih percaya diri. Ia ganti baju dan mulai duduk di samping ranjang. Pukul emam sore. Ia ambil segelas air dingin dari ulkas di dapur yang terletak di samping kamar tidurnya. Kemudian ia kembali ke kamarnya. Ia segera menuju ke meja belajarnya. Ia buka buku pelajarannya dan mengerjakans emua tugas yang di berikan gurunya. Pukul tujuh malam ia telah selesai mengerjakan itu semua. Sekerang ia akan turun ke lantai satu untuk menemui mamanya yang telah menunggunya di ruang makan.

“Peter! makan dulu sayang, kamu kan tadi pagi belum makan”, sapa sang mama.

“Iya, mom peter lapar banget nih. Mama juga pasti lapar kan mama kan sudah kerja seharian. Maafin peter! Peter ga bisa membantu mama. Padahal peter inikan anak mama. aku ga mau membuat mama sedih dan capek gara gara harus bekerja mulai pagi sampai malam. Aku ga mau kehilangan mama. seandainya papa masih hidup, mama pasti ga akan pergi untuk kerja kayak begini.”, terang peter kepada mamanya.

“ Sayang! kamu adalah anak yang baik dan pandai juga. Mama ga apa apa kok, lagian siapa lagi yang akan  membiayai sekolah kamu nanti kalau tidak mama. tugas kamu adalah belajar saja. Jangan kau hiraukan mama. Mama sangat menyayangimu peter jangan kau kecewakan mama dengan sikapmu. Jadilah anak yang baik di sekolah. Kalau mama boleh cerita, Papamu itu mirip sepertimu sayang! Dia itu seseorang yang suka bekerja keras. Ia tak pernah menyerah dan juga baik hati ketika kamu masih kecil setiap malam minggu kita pergi ke taman kota menikmati indahnya kembang api sambil meneguk segelas orange juice. Dia seseorang yang sabar dan juga tegas. Tapi kejadian itu melibas segalanya. Setiap malam saat kau masih kecil, dia sering bilang kalau mama harus menjagamu apapun yang akan terjadi kerena dia akan menjadi seseorang yang gagah berani seperti aku. Dan mama pun menganggukan kepala.” Cerita mama sambil menitikan air mata karena tidak tahan lagi. Sedangakn peter telah dulu menangis terisak isak, dia pun pergi ke samping mamanya dan memeluknya erat erat seraya berkata” Peter juga sangat sayang mama dan peter janji tidak akan pernah memaafkan diri peter jika sampai membuat mama kecewa dan menangis karena peter.” terang peter kpd mamanya

“Iya sayang, mama ngerti, sekarang sini biar mama hapus air mata itu dan sekarang makan dulu ya! makanannya ntar kalau dingin kan ga enak.” Perintah mama dengan suara yang masih terisak isak.

Dan akhirnya mereka pun makan bersama dengan suasana hati yang berbeda.  Peter sungguh berniat ingin membantu mamanya untukk emncari uang tapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana itu sedangkan mamanya terharu akan respon Peter kepadanya.

Ayah Peter telah meninggal sejak Peter masih berumur  dua tahun. Mamanya selalu bercerita kalau papanya adalah seorang peneliti terhebat di kotanya. Kota West Born. Dia berangkat ke kantor pagi sekali dan selalu pulang malam ketika peter telah tertidur pulas di pangkuan ibunya.  Ia tak seperti teman temannya. Ia bukanlah seorang pemabuk berat bahkan ia tak pernah melakukanya. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi kepadanya.saat itu pukul dua belas malam ketika papanya dalam perjalanan pulang. Entah kenapa tiba tiba mata papanya terlihat kabur dan kecalekaan itu pun terjadi, Mobil papanya menabrak sebuat tiang listrik yang terletak tidak jauh dari dalam rumahnya.

Komentar
  1. drew mengatakan:

    baguus!
    teruskan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s